Kisah Miliarder yang Pernah Terpuruk dan Bangkit Lagi

By on October 31, 2014 | Artikel ini Sudah di baca 3,096 kali

Inspirasi – Tahun 1977 seharusnya menjadi tahun terbaik desainer jeans terkemuka, Tommy Hilfiger. Di usianya yang baru menginjak 25 tahun,ia sudah memiliki penghasilan enam digit. Bak jamur,  People’s Place, menjadi tempat paling populer di kalangan remaja, dan  menyebar dengan dengan cepat di New York lantaran desain pakainnya yang unik. Kehidupan percintaannya pun berjalan mulus, sang gadis pujannya, Susie Cirona menerima pinangannya.

Namun, kehidupan sukses itu begitu cepat berubah. Ibarat roller coaster, dalam sekejap kebahagiaan Hilfger berbalik menjadi keterpurukan. Resesi serta tren baru dalam dunia fashion membuat ia terlilit hutang besar. Agustus 1977, Hilfiger terpaksa menutup seluruh tokonya, ia benar-bangkrut.

“Aku sangat terpukul. Aku merasa malu. Aku mulai dari nol dan bekerja sangat keras. Kami sangat dekat untuk membuat bisnis ini benar-benar besar, tetapi saya salah besar,” ucapnya saat menulis kisahnya untuk majalah Forbes.

Pasangan yang baru menikah itu pun sampai harus pindah dan menyewa apartemen kecil di Seventh Avanue, New York. Bersama istrinya, Hilfiger mencoba bangkit, dan menawarkan desainnya ke beberapa toko. Setelah hanya sebulan dipekerjakan Jordache Enterprises, Inc dan hanya seumur jagung mendesain untuk The Bonjour, Hilfiger akhirnya sadar ia harus membangun imej baru dari desainnya.

“Aku memaksa diriku untuk belajar lika-liku bisnis, tidak hanya sekedar desain kreatif. Saya belajar bagaimana membaca neraca. Saya menemukan cara untuk mengontrol biaya dan menemukan cara untuk membangun bisnis pada anggaran yang ketat,” ucapnya.
Begitu fokusnya ia belajar dari kesalahannya, Hilfiger bahkan menolak tawaran Perry Ellis, desainer pakaian olahraga serta Puritan Fashions yang mengajaknya mendesain jeans milik Calvin Klein.

Tahun 1985, Hilfiger pun memutuskan membangun brand desainnya sendiri usai ia berkenalan dengan pengusaha asal India, Mohan Murjani. Mereka pun membangun Tommy Hilfiger Coporation. Setahun kemudian, dengan izin Murjani ia mulai menggunakan namanya sendiri sebagai merek produk hasil rancangannya.

Hingga kini brand Hilfiger menjadi salah satu produk fashion ternama di dunia.  Dari bisnis fashionnya tersebut, Hilfiger berhasil mendulang kekayaan hingga mencapai US$ 250 juta.

Pengalaman keterpurukan serupa pun dialami raksasa bisnis Amerika, Donald J. Trump. Penguasa bisnis real estate, pemilik acara The Apprentice serta pemilik berbagai brand ini sempat terlilit hutang hingga 900 juta US Dollar dan merugi hingga US$3,5 miliar dollar pada 1994.

Media-media bisnis utama AS bahkan telah berkali-kali menjadikannya berita utama dan menganalisis kejatuhannya. “Aku tidak akan pernah lupa apa yang terjadi pada tanggal 26 Maret 1991 Baik The New York Times mapupun The Wall Street Journal di halaman depan memprediksi kematian saya, merinci masalah keuangan saya. Siapa saja dengan otak yang membacanya pasti mengatakan aku telah habis,” ucapnya dalam buku The Art of Comeback yang ia tulis setahun setelah ia bangkit.

Dia sempat dipaksa untuk meninggalkan apartemen mewahnya, Trump Shuttle dan diharuskan untuk mengurus Trump Tower di New York City dan mengontrol 3 buah kasino di Atlantic City.

Tak ada yang menyangka, Trump mampu mengembalikan keterpurukannya dalam waktu yang cepat. Trump justru menggunakan kemungkinan bangkrutnya sebagai alat bernegosiasi dengan bank pemberi kreditnya. Lalu bank pun memberi kesempatan Trump menjalankan bisnisnya sampai usahanya pulih lagi.

Setelah ia kembali menjadi raja property, Trump pun mengembangkan sayap bisnisnya di dunia pertelevisian. The Apprentice dan Miss Universe menjadi salah satu acaranya yang paling sukses. 2013 lalu kekayaannya diperkirakan mencapai US$3,2 miliar.
Nah, selebar apa jurang kebangkrutan yang tengah Anda hadapi? Mereka telah membuktikan kebangkitan kembali bukan hal yang tidak mungkin.

 

 

 

 

Sumber: dompetpintar.com