Kenapa Harga Emas Kian Terpuruk?

By on May 23, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 3,455 kali

Kenapa Harga Emas Kian Terpuruk?

Emas terus kehilangan sinarnya. Penurunan harga emas terakhir masih mendekati US$ 1.800 per ounce. Minggu lalu, harganya tenggelam di bawah US$ 1.400 per ounce. Dan karena jatuhnya harga emas, sejumlah investor berkelas pindah lahan investasi.

Pada kuartal I 2013, miliarder George Soros tercatat memotong dana bursa perdagangan sahamnya di SDPR Gold Trust sebesar 12%. Artinya menurut survei investor Credit Suisse, 60% investor menganggap emas sebagai komoditas paling meragukan seperti dikutip dari usnews.com, Kamis (23/5/2013).

Bagi para investor yang memiliki investasi emas, kemerosotan harga emas semakin jadi dilema: Jual sekarang dan hindari risiko penurunan lebih parah atau tunggu dan berharap harganya kembali naik?

Di satu sisi, beberapa investor yakin harga emas masih akan turun. Morningstar misalnya yakin harga emas jangka panjang, melihat harga emas sekarang bisa mencapai US$ 1.100 per ounce. Di waktu bersamaan, masih ada beberapa skenario lain, yang masih lekat dalam ingatan adalah kenaikan pasar saham terus berlanjut atau penguatan dolar Amerika Serikat (AS), penyebab harga emas sulit untuk naik.

Chief Investment Strategist di Pension Partners Michael Gayed menyarankan agar investor emas menunggu beberapa saat, karena bisa jadi para investor kehilangan kesempatan untuk menekan kerugian. “Anda bisa beragumen soal kemerosotan sudah berakhir. Tapi situasinya tetap tak berubah. Anda bisa saja kehilangan kesempatan untuk menjual mahal.” jelasnya.

Untuk mereka yang tak berinvestasi emas, Gayed menentang upaya aksi ambil untung dengan dengan menebak-nebak kapan emas berada di harga terendah lalu memborongnya. “Saat Anda melakukannya, sama saja seperti menunggu pisau jatuh,” katanya. “Bagi saya, tindakan yang salah karena Anda mencoba memanfaatkan investasi yang nilainya bisa jatuh kapan saja.”

Menurut Gayed, penggerak utama harga emas di bulan-bulan ke depan akan tergantung pada keputusan Bank Sentral AS (The Fed). Para investor menunggu tanda-tanda apakah The Fed akan melanjutkan stimulus pembelian obligasinya yang dikenal dengan istilah quantitative easing.

“Saat The Fed tidak keluar dari program quantitative easing, maka saya pikir Anda sebaiknya tak lagi berharap kenaikan harga emas,” tutur Gayed. “Bertaruh soal emas akan berdampak beda dengan investasi lainnya,” lanjutnya.

Elizabeth Collins dari Morningstar memprediksi turunnya harga emas hanya berjangka pendek. Menurut dia, harga emas mudah berubah, seperti tahun lalu para investor masih mengumpulkan emas. Collins mencatat, bagaimanapun, orang-orang tetap terpikat untuk berinvestasi emas beberapa bulan terakhir.

Meskipun, anjloknya harga emas tak baik bagi para investor, emas tetap intrumen investasi yang bagus setidaknya untuk satu kelas masyarakat AS yaitu pemburu perhiasan. Collins juga mencatat, rendahnya harga emas meningkatkan pembelian perhiasan.

(Siska Amelie F Deil, Liputan6 News)