Investor Eropa Ramai-Ramai Menanam Modal

By on April 8, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 3,045 kali

Investor Eropa Ramai-Ramai Menanam Modal

Pertumbuhan perekonomian Indonesia yang stabil di kisaran 6% dalam beberapa tahun terakhir cukup memikat investor Eropa untuk menanamkan modalnya. Jika selama ini kebanyakan investor asal Benua Biru tersebut hanya dari Belanda dan Inggris, beberapa tahun belakangan, mulai masuk investor dari negara lain seperti Prancis, Spanyol, Jerman, Italia, Swiss, bahkan Hongaria.

Memang, selama ini Belanda memimpin daftar investor asal Eropa yang menanamkan modal di Indonesia. Posisi di bawahnya Inggris. Berdasarkan catatan Badan Koordinator Penanaman Modal (BKPM), investor Belanda menanam modal US$ 608,3 juta pada 2010, lalu naik menjadi US$ 1,35 miliar di tahun 2011 dan 2012 sedikit susut menjadi US$ 966,5 juta. Pada periode yang sama, nilai investasi asal Inggris mencapai US$ 276,2 juta (2010), lalu naik jadi US$ 419 juta (2011), dan melompat jadi US$ 934,4 juta pada tahun lalu.

Nah, seiring krisis ekonomi di zona euro, Indonesia menjadi primadona baru investasi asing. Himawan Hariyoga, Direktur Promosi BKPM, bilang, meskipun Erpa krisis, pengusaha Eropa masih punya banyak uang dan ingin mencari tempat untuk menyemai keuntungan.

Investor Italia, misalnya, berencana menanamkan modalnya di sektor komponen otomotif. Sebuah perusahaan pembuat lapisan penyerap cairan untuk bahan pembuatan pembalut bayi juga tengah mencari mitra lokal.

Dari Jerman, bahkan sudah terlihat nilai potensi investasi sebesar US$ 3,5 miliar. Bila itu terealisasi, nilai investasi Jerman akan melonjak dibandingkan sepanjang tahun 2012 hanya US$ 75,8 juta.

Rencana Investor terbesar adalah masuknya Ferrostaal GmbH untuk membangun pabrik petrokimia di Teluk Bintuni, Papua Barat, senial US$ 2 miliar. Pabrik ini akan memproduksi metanol dan polipropilena. Lalu, Accor Group berencana membangun 57 hotel hingga tahun 2015 dengan komitmen investasi mencapai US$ 732 juta.

Selain itu, Carlson Rezidor Hotel sudah berkomitmen dengan Panaroma Grup untuk membangun 20 hotel dengan investasi US$ 200 juta.

Kemudian, TUV SUD Group berencana berinvestasi di sektor pelayanan minyak dan gas, manufaktur, serta industri otomotif senilai 150 juta euro. Ada pula perusahaan semen Heidelberg yang berniat membuka pabrik di kawasan Jawa Timur dengan nilai investasi hingga Rp 3,5 triliun. Terakhir, Volkswagen berencana menjadikan Indonesia sebagai tempat perakitan produknya.

Realisasi Naik Tajam

Dari Spanyol, ada investor di sektor usaha infrastruktur yang kabarnya sudah menghubungi beberapa perusahaan konstruksi lokal seperti PT Wijaya Karya, Waskita, dan Bangun Karya. Asal tahu saja, tahun lalu penanaman modal asing (PMA) dari Spanyol cuma US$ 3,1 juta. Jumlah itu hanya 0,21% dari total investasi seluruh Eropa di Indonesias.

Negara dari Eropa Timur seperti Hongaria juga mulai menyatakan minat investasi. Mereka di sektor green solar, yakni membangun pembangkitlistrik tenaga surya di 1.00 pulau di Indonesia. “Mereka sudah bertemu dengan PLN,” jelas Himawan.

M.Doddy Ariefianto, Pengamat Ekonomi dari Universitas Ma Chung, berpendapat, pemerintah harus memanfaatkan momentum pertumbuhan ekonomi untuk mecari investor asing sebanyak-banyaknya. Bila perlu, ada insentif tambahan bagi investor asing. Soalnya, belakangan negara-negara tetangga juga gencar mencari menggaet modal investor asing.

Menurut Doddy, keberadaan investor asing bukan hanya menyerap pengangguran, tapi juga memulihkan neraca perdagangan yang saat ini defisit. (Anna Suci Perwitasari dan Adi Wikanto, Kontan)