Harga Emas Diprediksi Melambung Sementara

By on May 3, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,099 kali
Investasi Emas

Harga Emas Diprediksi Melambung Sementara

Harga emas kembali menguat. Pernyataan The Fed yang menegaskan kembali komitmen untuk terus melanjutkan program stimulus moneter menjadi salah satu penyebab harga emas naik.

Harga emas untuk kontrak pengiriman Juni 2013 di Bursa Comex, Kamis (2/5), naik 0,58% menjadi US$ 1.454,60 per ons troi. Namun dalam sebulan, harga emas telah terpangkas sebesar 1,70%.

The Fed dalam pernyataannya setelah rapat dua hari yang berakhir Rabu (1/5), menegaskan, akan melanjutkan program stimulus moneter yang telah berjalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi AS. The Fed menyatakan, siap untuk menaikkan atau menurunkan jumlah stimulus jika dibutuhkan.

Selain itu, harga emas juga tertopang permintaan emas fisik seperti koin dan perhiasan yang meningkat dari China dan India. Di Shanghai Gold Exchange, rata-rata volume kontrak acuan meningkat empat kali lipat dari rata-rata volume di tahun lalu sejak pertengahan bulan April lalu.

Ariston Tjendra, analis Monex Investindo Futures mengatakan, pergerakan harga emas, kemarin, sedang mengalami rebound teknikal, setelah tertekan pada hari sebelumnya. “Harga emas juga mendapat keuntungan dari aksi tunggu pasar terhadap hasil pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB),” ujar Ariston.  ECB, kemarin,  akhirnya memutuskan untuk memangkas suku bunga acuan hingga menjadi 0,5%.

Kenaikan tidak lama

Namun, tren kenaikan harga emas diperkirakan tidak akan berlangsung lama. Ariston bilang, pergerakan harga emas akan dipengaruhi hasil pertemuan ECB dan rilis data non- farm payrolls Amerika di akhir pekan ini.

Emas juga akan tertekan oleh data aset exchange traded product (ETP) emas yang menurun. Menurut data Bloomberg, Selasa (30/4), aset ETP emas turun menjadi 2.272 ton. Ini menjadi jumlah terendah sejak Oktober 2011.

“Stimulus AS tidak bisa menjadi katalis bagi kenaikan harga emas. Penarikan aset ETP menjadi sentimen yang lebih kuat untuk menekan harga emas,’ kata Bernard Dahdah, analis Natixis SA seperti dikutip Bloomberg.

Nizar Hilmy, analis SoeGee Futures juga memprediksikan, tren kenaikan harga emas tidak akan berlangsung lama. Daya tarik emas yang sedang memudar serta minimnya sentimen positif penopang kenaikan harga akan membuat harga komoditas tersebut cenderung terkoreksi. “Harga emas masih akan sulit menembus US$ 1.500 per ons troi,” kata Nizar.

Secara teknikal, Ariston mengatakan, selama sepekan ke depan harga emas akan cenderung tertekan. Ini terlihat dari indikator moving avarage convergence divergence (MACD) yang berada di area negatif dengan pola garis terbuka ke bawah yang menunjukkan sinyal harga akan cenderung turun.

Sementara itu, indikator stochastic 26 bergerak ke atas keluar dari area oversold menunjukkan bahwa harga akan cenderung rebound. Begitu juga dengan indikator relative strength index (RSI) yang  berada di area oversold di kisaran 31, menandakan potensi untuk menanjak. Namun harga masih bergerak di atas moving average (MA) 200 menunjukkan koreksi akan tertahan sehingga kemungkinan harga bisa rebound.

Ariston memperkirakan, seminggu ke depan harga emas akan bergerak di kisaran US$ 1.400- US$ 1.520 per ons troi. Sementara itu, Nizar memproyeksikan, harga emas dalam sepekan ke depan akan bergerak di kisaran US$ 1.400-US$ 1.500 pe rons troi. (Agus Triyono, Kontan)