Euro Menguat Tunggu Hasil Rapat The Fed

By on May 2, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 1,745 kali
ECB

Euro Menguat Tunggu Hasil Rapat The Fed

Euro menguat terhadap beberapa mata uang utama dunia. Aksi tunggu pasar terhadap hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) menopang pergerakan euro.

Pasangan EUR/USD, Rabu (1/5) pukul 18.45 WIB, naik 0,42% menjadi 1,3223 dibanding sehari sebelumnya. Pasangan EUR/AUD menguat 0,58% menjadi 1,27700 dan pairing EUR/JPY menguat 0,42% menjadi 128,32.

The Fed menggelar pertemuan dua hari yang berakhir 1 Mei, di saat data ekonomi di AS menunjukkan hasil yang kurang menggembirakan. Indeks aktivitas bisnis AS April turun menjadi 49,0 dibanding Maret yang di level 52,4. Sebelumnya, produk domestik bruto (PDB) AS juga di bawah ekspektasi pasar yang hanya 2,5% di kuartal-I 2013.

Nick Bennenbroek, pengamat pasar uang Wells Fargo and co. mengatakan, rilis data ekonomi tersebut kemungkinan akan menjadi pertimbangan The Fed terus mempertahankan stimulus moneter. “Ini bikin USD tertekan,” katanya seperti dikutip Bloomberg.

Analis Monex Investindo Futures Zulfirman Basir mengatakan, selain karena dollar AS sedang tertekan, mata uang euro juga mendapatkan topangan positif dari Siprus. Pasar merespon positif terhadap sikap parlemen Siprus yang menyetujui paket bailout senilai US$ 13,8 miliar.

Euro juga mendapat sentimen positif dari Italia yang baru saja mendapatkan perdana menteri anyar. Ini membuat pasar optimistis krisis politik di Italia telah berakhir sehingga kondisi ekonomi di Eropa bisa lebih stabil.

“Berapa lama penguatannya, masih harus tunggu hasil pertemuan FOMC. Pasar juga bakal melakukan antisipasi atas kemungkinan pemangkasan suku bunga oleh European Central Bank (ECB),” kata Zulfirman.

Analis Divisi Treasuri BNI Raditya Ariwibowo menambahkan, untuk pairing EUR/AUD, penguatan euro ditopang indeks harga komoditas yang turun. Perekonomian Australia tergantung harga komoditas dunia. “Ketika indeks melemah, AUD akan tertekan,” kata Raditya. Adapun, yen melemah akibat kebijakan Jepang yang sengaja melemahkan yen untuk mengejar target inflasi 2%. (Agus Triyono, Kontan)