Dollar AS Menguat

By on June 17, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,585 kali
Dollar

Dollar AS Menguat

Dollar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap beberapa mata uang dunia. Pemicunya berasal dari rilis data penjualan ritel di AS yang meningkat dan berkurangnya jumlah klaim pengangguran di AS pada Mei.

Akibatnya, pasangan EUR/USD, Jumat (14/6), melemah 0,28% menjadi 1,3347 dari hari sebelumnya. Pairing AUD/USD melemah 0,72% menjadi 0,957. Cuma pairing USD/JPY turun 1,11% ke 94,31.

Penjualan ritel di AS tumbuh 0,6% di bulan Mei 2013, lebih tinggi dari penjualan di bulan April hanya tumbuh 0,1%. Adapun, jumlah klaim pengangguran di bulan Mei, berkurang 12.000 menjadi 334.000 klaim dari bulan sebelumnya. Kedua data ini mendorong penguatan dollar AS dan mengakhiri penurunannya selama tiga hari terakhir.

Suluh Adil Wicaksono, analis PT Millenium Penata Futures mengatakan, pasangan AUD/USD melemah karena sentimen perlambatan ekonomi Australia dan penurunan impor hasil tambang di China. Padahal, China merupakan tujuan ekspor tambang terbesar Australia.

Namun, Suluh memperkirakan, minggu depan aussie berpotensi menguat, bergantung pada hasil pertemuan Bank Sentral Australia (RBA) terkait kebijakan moneter Australia. “Kalau ada kebijakan baru, aussie akan menguat,” ujar Suluh.

Zulfirman Basir, analis PT Monex Investindo Futures mengatakan, pasangan EUR/USD melemah lebih karena profit taking. “Kalau pairing ini jatuh ke 1,3250 maka sinyal bullish akan berakhir,” prediksi dia.

Secara umum, kondisi ekonomi Eropa sebetulnya mulai membaik setelah Mahkamah Konstitusi Jerman tak memberi sinyal rencana Bank Sentral Eropa (ECB) membeli obligasi dari negara terkena krisis. Ini membuat mata uang euro berpotensi menguat.

Sisi lain, imbuh Zulfirman, dollar AS mencoba rebound di tengah kekhawatiran pasar terhadap rencana The Fed yang mungkin mengurangi stimulus moneter.

Raditya Ariwibowo, Head of Research Divisi Treasury BNI mengatakan, USD/JPY melemah karena hasil dari risalah Bank Sentral Jepang (BoJ) yang mengecewakan pasar. “BoJ tak mengambil keputusan apa-apa untuk melonggarkan stimulus moneter seperti yang diharapkan oleh pasar, sehingga yen kembali menguat,” ujar dia.

Raditya menilai, yen lebih menarik perhatian investor ketimbang dollar AS. “Investor akan lari ke yen sebagai safe haven currency, memiliki suku bunga lebih rendah dari dollar, namun pergerakannya tak volatil.” jelas dia. (Cindy Silviana Sukma, Kontan)