Dollar AS Makin Kekar

By on June 8, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 3,068 kali

Berita – Otot dollar AS makin kekar. Data tenaga kerja Amerika Serikat membuat mata uang yang kerap di sebut the greenback unggul terhadap mata uang utama dunia.

Mengacu data Bloomberg, Jumat (5/6), pasangan EUR/USD anjlok 1,10% ke 1,1114. Pasangan USD/JPY melonjak 1,02% menjadi 125,63. Begitu pula pairing AUD/USD anjlok 0,85% ke level 0,7623.

Akhir pekan lalu, data Amerika Serikat menyebutkan, non farm employment change AS periode Mei 2015 tercatat sebanyak 280.000 orang. Angka tersebut melebihi prediksi 222.000 orang dan melesat dari bulan sebelumnya tercatat 221.000 orang.

Data ini menyita perhatian pasar. Sebab, data ini menjadi petunjuk bagi Bank Sentral Amerika (The Fed) untuk segera mengerek tingkat suku bunga pada tahun ini.

Kondisi pasangan EUR/USD kian tergencet lantaran Eropa tengah terjepit sentimen negatif penyelesaian utang Yunani. Pemerintah Yunani belum membuahkan kesepakatan.

Padahal, tenggat pembayaran utang Yunani sebelumnya ditetapkan Jumat (5/6), mundur menjadi akhir Juni. Research and Analyst PT Monex Investindo Futures, Putu Agus Pransuamitra memprediksikan, pasangan EUR/USD masih akan kembali melemah. “Penurunannya bisa cukup tajam hingga ke level 1,960,” kata Putu, kemarin.

Pada pasangan USD/JPY, Research and Analyst PT SoeGee Futures, Alwy Assegaf menilai, kebijakan moneter Jepang yang cenderung longgar membuat yen bertekuk lutut di hadapan dollar AS. Jepang juga masih menggelontorkan stimulus untuk mengejar target inflasi 2%.

Padahal, Amerika Serikat tengah berancang-ancang untuk mengetatkan kebijakan moneter tahun ini dengan mengerek tingkat suku bunga The Fed 25 basis poin. Alwy memprediksikan, pasangan USD/JPY masih akan menguat hari ini. Namun patut diwaspadai lantaran penguatan sudah tajam.

Analis PT Millenium Penata Futures, Adil Wicaksono menilai, pasangan  AUD/USD ikut turun karena data ekonomi Amerika Serikat yang menguat. Dia memproyeksikan, pelemahan masih akan berlanjut hingga pekan ini. Ini karena beberapa data yang akan dirilis oleh Amerika Serikat diproyeksikan masih akan lebih bagus dan memperkuat kemungkinan The  Fed menaikkan suku bunga.

 

Sumber KONTAN