Berkenalan Lebih Dekat Dengan Kontrak Gulir Indeks Emas

By on June 17, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 320 kali

Investasi Emas – Kontrak Gulir (rolling spot) merupakan jenis kontrak di mana harga yang diperjualbelikan adalah harga yang berlaku saat ini (spot price), bukan harga mendatang (forward price) seperti dalam kontrak berjangka. Kontrak Gulir (rolling spot) juga tidak menyertakan tanggal jatuh tempo seperti kontrak berjangka yang tiap hari secara otomatis diperpanjang hingga kontrak ditutup, sehingga dapat secara mudah dipergunakan untuk lindung nilai jangka panjang ataupun jangka pendek.

Konsep Kontrak Gulir dipakai pula dalam perdagangan indeks emas dan mata uang di perbankan seperti di pasar saham. Untuk indeks emas, kontrak gulir ini  juga sudah mulai diterapkan di seluruh dunia. Apalagi sifat indeks lebih stabil akan halnya sifat komoditi emas yang membuat indeks emas memiliki dua kekuatan sekaligus untuk tidak terlalu mengkhawatirkan penggunaan kontrak gulir yang tanpa jangka waktu. Pergerakan nilai pasar kontrak gulir yang dilakukan di bursa mampu menjadi tolok ukur tingkat efisiensi dan tingkat likuiditas pasar dari kontrak gulir tersebut. Pasar yang efisien adalah pasar di mana harga-harga selalu merefleksikan secara penuh informasi yang tersedia dan di mana tak ada satupun pedagang-pedagang di pasar yang dapat menghasilkan profit dengan memonopoli informasi yang terkontrol (Fama, 1970). Pasar efisien salah satu bentuknya adalah bentuk lemah (weak form). Menurut kategori, pasar efisien bentuk lemah (weak form), pasar disebut efisien jika seluruh informasi mengenai harga dan perdagangan masa lalu sudah tercermin dalam harga saat ini. Implikasinya, pelaku pasar tak  dapat menggunakan data-data harga serta perdagangannya untuk memprediksi harga ke depan. Hal ini berarti, analisa teknikal tidak lagi berguna dan tidak akan menghasilkan keuntungan ekstra.

Bentuk pasar efisien yang lain adalah bentuk pasar setengah kuat (semi strong). Menurut kategori pasar efisien bentuk setengah kuat (semi strong), pasar disebut efisien jika seluruh informasi mengenai data publik telah tercermin dalam harga saat ini. Implikasinya, pelaku pasar tidak dapat menggunakan data-data publik untuk memprediksi harga ke depan. Hal ini berarti, analisa fundamental tidak lagi berguna dan tidak akan menghasilkan keuntungan ekstra. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya, dalam pasar efisien semi strong, harga saat ini sudah mencerminkan data-data publik.

Biasanya para investor, di samping memakai analisa teknikal untuk memprediksi arah dari pergerakan harga KIE yang searah dengan pergerakan nilai tukar mata uang USD/Rp, juga sering menggunakan analisa fundamental. Jika dalam analisa teknikal digunakan analisis terhadap pola pergerakan harga di masa lalu, maka dalam analisa fundamental digunakan analisis atas informasi yang telah tersedia di publik atau data-data publik, yang salah satunya adalah informasi ekonomi makro,  dengan tujuan untuk memprediksikan pergerakan harga di masa yang akan datang. Terdapat banyak jenis instrumen investasi untuk menempatkan  dana investasi. Diantaranya saham, SBI serta valuta asing. Dengan pergerakan KIE yang 100% berbanding lurus dengan pergerakan nilai tukar mata uang USD/Rp maka KIE merupakan jenis investasi pada valuta asing. Baik harga saham, tingkat suku bunga SBI dan pergerakan nilai tukar mata uang USD/Rp, satu dan yang lainnya saling mempengaruhi dana investasi yang hendak  ditempatkan. Apabila pergerakan tingkat suku bunga SBI mempunyai return yang lebih baik dibandingkan pergerakan nilai tukar USD/Rp dan pergerakan IHSG, maka dana-dana investasi akan secara otomatis mengalir ke instrumen SBI. Demikian juga jika pergerakan IHSG mempunyai return yang lebih baik dibandingkan nilai tukar USD/Rp dan SBI, maka dana-dana investasi yang telah ada, akan secara otomatis  mengalir ke pasar saham. Dana-dana investasi juga akan otomatis mengalir ke pasar uang, apabila pergerakan return nilai tukar mata uang USD/Rp lebih baik jika dibandingkan dengan SBI dan IHSG.

Selain intrumen investasi seperseperti SBI dan saham yang merupakan substitusi dari instrumen pasar uang, tingkat inflasi juga diyakini mempengaruhi tingkat return dari pergerakan harga nilai tukar USD/Rp. Tingkat inflasi yang tinggi mampu mengakibatkan nilai tukar mata uang rupiah terdepreasi terhadap mata uang USD, demikian juga sebaliknya. Penguatan nilai tukar rupiah dapat memperingan tekanan inflasi. Penguatan nilai tukar rupiah akan membuat harga barang impor menurun sehingga tekanan inflasi akan berkurang. Namun demikian, nilai tukar rupiah yang menguat akan menekan modal Bank Indonesia (BI) sehingga aset BI dengan sendirinya akan mengecil. Tertekannya modal dan mengecilnya aset BI disebabkan cadangan devisa yang dihimpun disimpan dalam mata uang USD (Nah baru tahu khan….beli minyak pakai USD, beli emas pakai USD, devisa disimpan dalam USD! Kok nggak ada yang menyimpan devisa dalam Kethip hahaha. Itu mah mata uang ketika manusia masih setengah monyet. Ampun ya leluhur, Cuma bercanda!) sehingga apabila nilai tukar rupiah dibiarkan menguat, cadangan devisa yang dihimpun dalam mata uang USD akan berkurang nilainya. Meskipun demikian, terkadang neraca BI dibiarkan menjadi negatif alias minus karena BI lebih mengutamaskan tujuan nasional untuk meredam inflasi dibanding menyeimbangkan neracanya.