Bagaimana Mensiasati Agar Dollar Tidak Menghancurkan Rencana untuk Naik Haji

By on September 8, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 272 kali

Perencanaan Keuangan – Menunaikan ibadah haji merupakan salah satu kewajiban umat Islam. Kewajiban ini terutama harus dijalankan oleh umat Islam yang mampu. Maklum saja, biaya menunaikan ibadah haji memang cukup besar.

Karena itu, tidak heran kalau banyak muslim yang lantas menabung sejak jauh-jauh hari demi bisa beribadah di Mekah. Harapannya, dalam waktu beberapa tahun ke depan, orang tersebut sudah bisa menunaikan ibadah haji.

Tapi, saat ini menunaikan ibadah haji sudah semakin sulit. Selain harus bisa bersabar menanti giliran berangkat ke Mekah lantaran waiting list yang panjang, biaya naik haji bisa jadi membengkak tiba-tiba.
Alhasil, duit yang sudah disiapkan sejak lama jadi kurang.

Penyebab membengkaknya biaya haji antara lain kenaikan kurs dollar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah. Maklumlah, biaya haji masih dihitung dengan mata uang negeri Uwak Sam tersebut.

Tahun ini, penyelenggara haji terpaksa meminta beberapa calon jemaah haji menambah biaya haji lantaran kenaikan kurs dollar. Di Bengkulu Utara misalnya, ada sekitar 158 calon jemaah haji yang diminta menyiapkan uang sekitar Rp 9 juta lagi, gara-gara dollar AS naik.

Belum lagi, biaya naik haji rata-rata selalu naik setiap tahunnya. Wakil Ketua Umum Kesatuan Tour Travel Haji Umrah Republik Indonesia (Kesthuri) Artha Hanif menyebut, setiap tahun biaya berangkat haji rata-rata mengalami kenaikan 10%.

Karena itu, dalam kondisi kurs rupiah berfluktuasi tajam seperti sekarang ini, sekadar menabung untuk mempersiapkan dana haji bisa jadi tidak cukup. Ketika waktunya tiba Anda melunasi dana haji, bisa jadi duit Anda kurang lantaran kurs naik tajam. Jadi, Anda juga perlu mewaspadai kenaikan kurs yang tinggi saat menyiapkan biaya haji.

Dana pemesanan

Biasanya, ketika seseorang berniat berangkat haji, orang tersebut sebelumnya harus melakukan pemesanan nomor porsi. Biasanya, pemerintah menetapkan besaran dana pemesanan nomor porsi ini.

Nantinya, ketika hendak berangkat, calon jemaah bisa jadi menambah lagi dana sesuai dengan kurs dan biaya saat itu. Karena itu, jika kurs naik tinggi seperti sekarang, biaya tambahan yang harus dikeluarkan bisa jadi sangat besar. “Jadi tidak ada patokan pasti berapa besar kenaikan total biaya haji,” kata Rakhmi Permatasari, perencana keuangan dari Safir Senduk dan Rekan.

Belum lagi, bisa jadi jadwal keberangkatan haji menjadi lebih cepat dari seharusnya. Biasanya, jika ada calon jemaah haji yang tidak bisa melunasi biaya haji di tahun tersebut sehingga tidak bisa berangkat, maka kursi yang kosong akan diisi oleh calon jemaah tahun berikutnya. Kalau calon jemaah tersebut bisa melunasi biaya haji tahun tersebut, maka ia bisa berangkat lebih cepat.

Karena itu, akan lebih baik kalau Anda sudah memiliki dana yang mencukupi untuk berangkat haji sebelum tahun rencana keberangkatan. Artha menyebut, dengan asumsi biaya haji naik sekitar 10% setiap tahunnya, calon jemaah haji sebaiknya menyiapkan dana lebih besar sekitar 10% dari besar dana haji yang ditetapkan pemerintah.

Pada dasarnya, saat ini setiap orang memiliki waktu yang cukup untuk menyiapkan dana naik haji. Waktu antre haji reguler saat ini berkisar antara 10 tahun–15 tahun. Sementara untuk haji plus sekitar 7 tahun. Dengan jangka waktu yang cukup panjang, calon jemaah haji bisa mempersiapkan dana naik haji dengan lebih matang.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan saat menyiapkan dana untuk menunaikan ibadah haji. Apa saja itu gerangan?

• Fokus ke dana pemesanan dulu
Sebelum mempersiapkan dana pelunasan, idealnya calon jemaah haji mempersiapkan dana pemesanan nomor porsi terlebih dulu. Biasanya besarnya sekitar Rp 25 juta–Rp 27 juta. Dana pemesanan ini bisa dibayarkan dalam rupiah.

Karena itu, untuk mempersiapkan dana pemesanan ini, calon jemaah bisa menabung hingga jumlahnya cukup. “Tabunglah sesuai kemampuan,” saran Fauziah Arsiyanti, perencana keuangan Fahima Advisory. Selain tabungan, calon jemaah juga bisa memanfaatkan deposito untuk menyiapkan dana pemesanan nomor porsi.

• Memanfaatkan instrumen dollar AS
Calon jemaah bisa mempersiapkan dana pelunasan setelah dana pemesanan nomor porsi siap, atau setelah lebih dari setengah dana pemesanan terkumpul. Besar dana pelunasan ini sulit diprediksi lantaran bergantung fluktuasi kurs rupiah terhadap dollar AS. Karena itu, idealnya duit untuk dana pelunasan disimpan di instrumen yang tidak terlalu terpengaruh fluktuasi mata uang.

Rakhmi menyebut, untuk seseorang yang berencana pergi ke luar negeri, bisa menyimpan dananya dalam tabungan dollar AS. Atau. orang tersebut juga bisa  menempatkan dananya di instrumen yang menggunakan aset dasar dollar AS, seperti reksadana pasar uang dollar atau reksadana pendapatan tetap dollar. “Ini risikonya paling kecil jika dibandingkan dengan jenis reksadana lainnya,” tandas Rakhmi.

Lantas, bagaimana dengan calon jemaah yang baru mulai bersiap di saat mata uang dollar AS sedang tinggi seperti sekarang? Mungkin calon jemaah tersebut bakal merasa rugi bila harus membeli dollar AS dengan harga yang tinggi seperti saat ini untuk masuk ke dalam tabungan atau reksadana berdenominasi dollar AS tadi.

Para perencana keuangan sepakat, bila calon jemaah tersebut sudah memiliki target waktu keberangkatan, sebaiknya persiapan dana dimulai sejak sekarang, meski nilai tukar dollar masih tinggi. Sehingga jika nanti tiba waktunya berangkat rupiah masih melemah, calon jemaah tersebut sudah memiliki dollar.

Agar tidak terlalu merasa rugi, calon jemaah tersebut tidak perlu membeli dollar sekaligus. “Kalau baru mau mulai saat ini, lakukan pola pembelian dollar secara mencicil saja,” jelas Rakhmi.

Dengan cara ini, calon jemaah membeli dollar AS secara terbatas sesuai kemampuannya, misalnya membeli US$ 50 per bulan. Dengan asumsi kurs
Rp 13.800 per dollar AS, calon jemaah harus menyisihkan sekitar Rp 690.000 per bulan untuk membeli dollar. Pembelian dollar bisa ditambah bila nilai tukar dollar AS melemah.

• Emas juga bisa jadi pilihan
Selain instrumen berbasis dollar AS, calon jemaah juga bisa memanfaatkan emas untuk menyiapkan dana naik haji. Alasannya, fluktuasi harga emas di Indonesia tidak terlalu besar.

Pergerakan harga emas internasional biasanya berbanding terbalik dengan pergerakan dollar AS. Bila kurs dollar AS menguat, harga emas kerap kali turun, begitu pula sebaliknya. Karena itu, harga emas di Indonesia relatif stabil.

Selain itu, dalam jangka panjang, harga emas cenderung menguat. Jangan lupa, rata-rata keberangkatan haji saat ini paling cepat adalah tujuh tahun setelah mendaftar. “Harga emas tidak pernah melemah dalam jangka lima tahun sampai tujuh tahun, dihitung sejak pertama membeli,” ujar Rakhmi.

Calon jemaah juga bisa menempatkan dana di instrumen yang memberi return tinggi seperti saham atau reksadana saham. Namun, risiko instrumen tersebut terlalu tinggi untuk biaya haji. Investasi calon jamaah bisa saja hilang.

Kalau semua dana sudah siap, tinggal persiapkan diri Anda agar bisa menjadi haji yang mabrur.

 

Sumber: kontan.co.id