Bagaimana Menghitung Keuntungan atau Imbal Hasil Reksadana

By on September 30, 2015 | Artikel ini Sudah di baca 342 kali

Investasi Reksadana – Reksadana menjadi satu pilihan investasi yang dananyamengambil berasal dari masyarakat umum. Pengumpulan ini bisa melalui tabungan, deposito, asuransi dan jenis simpanan lainnya.Reksadana tersebut kemudian diolah atau dikendalikan untuk diinvestasikan kembali dalam bentuk portofolio efek oleh Manajer Investasi. Manajer Investasi ini mengelola dana-dana yang dihimpung dari masyarakat dan pemodal lainnya yang kemudian ditempatkan pada surat berharga yang keuntungan maupun kerugiannya direalisasikan serta menerima keuntungan dalam bentuk dividen yang lalu dibukukan dalam bentuk Nilai Aktiva Bersih.

Nilai Aktiva Bersih (NAB) ini akan menjadi ukuran dalam memantau hasil dari reksadana tersebut. NAB ini juga akan menjadi satu unsur dalam perhitungan imbal hasil reksadana.Tetapi tidak semua orang memahami bagaimana cara menghitung imbal hasil reksadana tadi. Disini akan diurai secara singkat mengenai hal tersebut.
Untuk memudahkan pemahaman awal kita akan melihat perhitungan keuntungan dari bunga deposito. Deposito adalah satu jenis investasi yang paling sederhana dan mudah dimengerti dan diketahui oleh masyarakat luas. Meskipun keuntungan dari investasi ini juga paling rendah di antara jenis investasi lainnya. Imbal hasil dari deposito dikenal dengan bunga. Penghitungan bunga yang dihasilkan sangat sederhana, contohnya adalah investasi deposito senilai Rp 50.000.000 untuk jangka waktu 5 tahun dengan bunga 7,5% per tahun. Maka imbal hasilnya adalah 50.000.000 x 7,5% x 5 = 18.750.000

Jadi keuntungan atau imbal hasil yang diperoleh dari deposito tersebut adalah Rp 18.750.000 untuk 5 tahun atau Rp 3.750.000 per tahunnya sebelum pajak. Besarnya imbal hasil tersebut akan tetap selama tidak ada perubahan besaran bunga oleh pihak bank.

Perhitungan deposito tersebut sebagai referensi perhitungan imbal hasil reksadana. Secara sederhana keuntungan atau imbal hasil dari reksadana akan seperti itu setelah jangka waktu tertentu sampai penjualan reksadana yang dimiliki.Persisnya, perhitungan imbal hasil reksadana berdasarkan nilai unit penyertaan yang dimiliki dikali selisih harga NAB saat pembelian dan penjualan. Dan juga ada beberapa unsur lainnya yang mempengaruhi besarnya imbal hasil. Nilai imbal hasil reksadana akan tergantung pada nilai NAB saat penjualan (apakah lebih besar atau lebih kecil dari nilai NAB pembelian), setelah itu akan ada biaya seperti biaya pembelian atau subscription fee, biaya pengalihan atau swtiching fee dan biaya penjualan kembali atau redemption fee yang akan mengurangi imbal hasil. Untuk contoh perhitungannya sebagai berikut.

Pada tanggal 28 Juli 2010 X membeli reksadana dari PT. ABC senilai 2.000.000 dengan harga NAB 2.000, sehingga saat itu X mempunyai nilai unit 2.000 unit penyertaan. Pada tanggal 1 Januari 2015, X menjual reksadana yang dimiliki sebanyak 2.000 unit penyertaan dengan harga NAB saat itu adalah 2.300.
Imbal hasil yang diperoleh X adalah : 2.000 x (2.300 – 2.000) = 600.000

Sehingga yang diperoleh X dengan menjual 1.000 unit reksadananya ia mendapatkan keuntungan sebesar 600.000 sebelum dikurangi biaya pembelian dan penjualan.

Keuntungan tersebut belum termasuk dengan dividen yang mungkin diperoleh selama masa 5 tahun kepemilikan reksadana, tetapi tidak semua reksadana memberikan dividen dan besarannya juga tidak sama antara yang satu dengan yang lainnya.

Ternyata sangat mudah memahami tentang reksadana dan imbal hasil dari reksadana tadi. sehingga menjadi referensi bagi kita juga tentang positif dan perlunya investasi sebagai dana simpanan. Dan reksadana dapat menjadi satu pilihan. Demikian yang bisa diuraikan tentang perhitungan imbal hasil dari reksadana sehingga tidak akan menjadi pertanyaan lagi terkait cara menghitung imbal hasil reksadana.