Apakah ini Waktu yang Tepat untuk Membeli Emas?

By on May 27, 2013 | Artikel ini Sudah di baca 2,297 kali
Ilustrasi Emas

Apakah ini Waktu yang Tepat untuk Membeli Emas?

Harga emas terus merosot tajam selama 18 bulan terakhir. Dengan posisi harga logam mulia sekarang, apakah ini waktu yang tepat untuk membeli emas?

Seperti dikutip dari AMEInfo.com, Senin (27/5/2013), Kepala Komoditas Wealth Management Emirates NBD Gerhard Schubert menyatakan, setelah selama ini bertahan di harga setinggi US$ 1.926 per ounce, harga emas anjlok hingga US$ 1.360 per ounce dalam waktu singkat yaitu cukup satu setengah tahun saja. Menurut dia, hal ini merupakan kemerosotan yang sangat signifikan.

Schubert menjelaskan, saat ini terdapat dua tren di pasar emas yaitu banyak konsumen yang memborong emas, namun di sisi lain, para investor juga berbondong-bondong menjual emas dalam bentuk kertas (exchange-traded funds/ETF).

Lakunya emas diantara para konsumen sungguh fenomenal, khususnya di China dan India dalam beberapa bulan terakhir. Industri minyak juga diam di tempat dalam seminggu di seluruh dunia guna menyeimbangkan harga.

Namun begitu, lanjut dia, sejak harga emas turun di bawah level support seharga US$ 1.525 per ouncd, ramainya pembelian emas diimbangi dengan penjualan yang dilakukan para investor. Sebanyak 180 ton logam mulia di kuartal pertama ludes terjual lewat ETF. Penjualan tersebut bernilai sekitar US$ 9,3 miliar.

“Yang nampak sekarang, para investor memiliki banyak likuiditas atas kemudahan dari kebijakan bank sentral, dan pasar saham global yang mencapai nilai tertinggi. Para investor meraup ekuitas sebagai kelas asetnya dan menghindari komoditas,” jelas Schubert.

Menurut dia, tren ini akan berlangsung lama. Harga emas juga berada di bawah tekanan pergerakan bursa saham asing. Dolar Amerika Serikat (AS) dan Euro menguat atas yen. Hal ini juga membuat para investor tak berselera pada emas. Jadi bagi pasar emas, kondisi ekonomi saat ini sangat menantang.

Peningkatan peningkatan tajam di pasar ekuitas global sebagian besar malah mengejutkan, khususnya dengan standar produk domestik bruto (PDB) di beberapa negara. Saham sendiri memang diakui sebagai simbol kekuatan ekonomi suatu negara, tapi peran PDB di negara-negara tersebut tak menggambarkan kondisi nyata di pasar-pasar ekuitas.

Lalu bagaimana prediksi harga emas ke depan?

Semua harus siap menghadapi kenyataan. Walaupun harga emas pernah bersinar selama 12 tahun, tapi sekarang harganya sedang melemah. Namun begitu,
fase konsolidasi akan segera dimulai, dimana harga emas bisa naik sekitar US$ 1.500- US$ 1.600 per ounce.

Dengan biaya operasi pertambangan emas saat ini, harganya memang bisa sekitar US$ 1.300 per ounce. Bahkan bisa dilihat pelambatan produksi emas. Ke depannya, Schubert memperkirakan pasar emas bisa mendulang pundi-pundi uang jangka panjang, melewati masa rapuhnya harga emas. (Siska Amelie F Deil, Liputan6 News)