Apa Ramalan dan Prediksi Investasi di 2018?

By on January 3, 2018 | Artikel ini Sudah di baca 631 kali

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2018 diprediksi akan mengalami lonjakan meskipun menghadapi tahun politik dan indikasi krisis ekonomi siklus 10 tahunan seperti yang pernah terjadi pada 1998 dan 2008.

Pemerintah menargetkan, pertumbuhan ekonomi 2018 mencapai 5,4 persen atau meningkat 0,3 persen dibanding target 2017 sebesar 5,1 persen.

Peneliti dari Institute For Development of Economics and Finance (Indef), Bhima Yudhistira mengatakan, angka yang ditargetkan oleh pemerintah itu terlalu tinggi. Lantaran, pertumbuhan ekonomi 2017 stagnan atau tidak melaju drastis.

“Untuk target pertumbuhan ekonomi terlau tinggi 5,4 persen, sedangkan 2017 ini targetnya 5,1 persen nah sekarang masih 5,01 persen. Jika dilihat dari capaian sekarang harusnya target 5,1 persen,” ungkap Bhima, Rabu (27/12) pekan lalu.

Apa Ramalan dan Prediksi Investasi di 2018?

Terlebih dengan digelarnya pemilihan kepala daerah (Pilkada) serentak di 171 daerah pada 2018, investor asing diprediksi memilih wait and see hingga perhelatan itu selesai. Meskipun investor asing menurun, tetapi investor dari dalam negeri diperkirakan akan melonjak.

“Terpengaruh Pilkada iklim investasi didominasi investor domestik, dan investasi juga tidak akan mengalami lonjakan yang signifikan di tahun 2018,” ungkap Bhima.

Di sisi lain, sambung Bhima, Pilkada bakal berdampak pada meningkatnya daya beli negara. Terlebih selain Pilkada, tahun depan Indonesia menjadi juga jadi tuan rumah perhelatan besar seperti Asian Games 2018 dan International Monitory Fund (IMF) 2018.

Oleh karena itu pemerintah diharap berhati-hati dalam menentukan keputusan bidang ekonomi terutama soal pajak untuk menjaga iklim usaha. Kemudian ekspor barang-barang jadi juga disarankan agar ditingkatkan karena memiliki nilai jual yang lebih tinggi.

“Agar lebih kondusif menjaga stabilitas keamanan itu penting dengan mengoptimalkan ekspor barang jadi karena nilai tambahnya bagus dan infrastruktur juga harus makin tumbuh optimal, jadi percepatan konektivitas bukan cuma orang tapi juga barang,” ungkap Bhima.

Sedangkan mengenai siklus krisis 10 tahunan, Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik, Badan Pusat Statistik (BPS), Sri Soelistyowati menyebut hal itu tidak akan terjadi. Indonesia dan negara dengan pengaruh perekonomian terbesar di dunia atau G20 disebutkan telah memiliki program-program agar tidak terjadi krisis ekonomi pada tahun 2018.

“Perlu saya jabarkan, krisis ekonomi membuat negara G20 itu aware, sehingga di G20 sepakat menyusun data gap inisiatif, namaya sectoral account dan balancing,” ujar Sri Soelistyowati saat ditemui beberapa waktu lalu.

Ia menyebutkan, dari sektor-sektor yang dapat menimbulkan krisis seperti pembangunan ekonomi, laju inflasi, maupun obligasi Indonesia dinilai aman dari indikasi krisis. Namun yang perlu diwaspadai adalah kebijakan ekonomi negara lain, karena banyaknya kerjasama ekonomi yang dilakukan Indonesia dengan berbagai negara.

“Jika negara besar memberikan shock, kita juga terpengaruh tapi saat 2008 krisis melanda Indonesia masih bertahan. Saya pikir akan seperti itu karena pemerintah selalu memonitor sejak awal,” tandasnya.

sumber : tribunnews.com

Incoming search terms: